- Pengantar pertanian masa depan
Perubahan
gaya hidup dan cara pandang terhadap pangan masyarakat Indonesia pada masa
yang akan datang akan berubah. Kecenderungan karakter konsumen yang akan
terjadi pada masa depan dan sudah mulai dapat dirasakan saat ini antara lain
adalah tuntutan konsumen terhadapkeamanan, nilai gizi, cita rasa, dan
ketersediaan pangan akan meningkat pesat. Pada masa depan akan semakin
banyak orang yang makan di luar rumah, dan semakin banyak makanan instan di
rumah. Keamanan dan mutu pangan akan menjadi isue penting, walaupun
mungkin ketahanan pangan masih menjadi isue yang tidak kalah penting.
Di Indonesia, pasar modern
(hypermarket, supermarket, dan minimarket) akan tumbuh dengan laju pertumbuhan
yang sangat tinggi. Walaupun jumlah supermarket chain besar berkurang, tetapi
yang bertahan makin besar, sehingga keseimbangan kekuatan bergesar dari
produsen/petani ke perusahaan multinasional. Kondisi ini akan menyebabkan
adanya kompetisi antara produk pangan domestik dengan produk impor (yang sering
kali lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah). Tuntutan konsumen
terhadap produk pertanian pada masa depan akan semakin meningkat, yang mau
tidak mau, akan mempengaruhi kecenderungan manajemen produksi tanamanan.
Baca Selengkapnya. . .
Baca Selengkapnya. . .
- Pola pertanian masa depan
Pertanian
konvensional adalah
pertanian seperti yang dilakukan oleh sebagian besar petani di seluruh dunia
saat ini. Pertanian ini mengandalkan input dari luar sistem pertanian,
berupa energi, pupuk, pestisida untuk mendapatkan hasil pertanian yang
produktif dan bermutu tinggi. Pada masa yang akan datang sistem pertanian
ini akan lebih ramah lingkungan bersamaan dengan lebih banyak input
teknologi. Perkembangan atau kemajuan pertanian konvensional pada masa
depan dibandingkan masa sekarang terjadi karena peran penelitian bidang
ekofisiologi dan pumuliaan tanaman, serta karena tuntutan
masyarakat. Kemajuan itu antara lain berupa:
1.
Digunakannya
varietas-varietas tanaman yang lebih produktif, lebih bermutu, lebih tahan atau
toleran pada hama dan penyakit utama, lebih tahan pada kekurangan air dan hara,
serta dapat berproduksi tinggi pada lahan-lahan marginal.
2.
Lebih
memanfaatkan biota di lingkungan pertanian, baik untuk meningkatkan kesuburan
lahan, maupun toleransi terhadap OPT.
3. Penggunaan
pupuk akan lebih bijaksana, berdasarkan Integrated Plant nutrition System,
sehingga tidak berlebih, berdasarkan kebutuhan riel tanaman, tidak banyak yang
tercuci dan mencemari lingkungan.
4. Penggunaan
pestisida akan sangat berkurang; pengendalian organisme pengganggu tanaman akan
berdasarkan PHT.
5. Konsolodasi
lahan-lahan pertanian akan terjadi, sehingga pengelolaan sistem produksi akan
lebih mudah.
6. Tenaga
kerja di pertanian berkurang karena urbanisasi dan menjadi pekerja pada sektor
industri, sehingga:
a. terjadi
peningkatan mekanisasi pertanian,
b. input
energi biologi (tenaga ternak atau tenaga manusia) akan banyak diganti energi mekanik berbasis biologi, seperti biodisel maupun bioetanol,
c.
daya tawar
petani dan buruh tani lebih tinggi, sehingg kesejahteraannya meningkat.
7. Produktivitas
pertanian akan meningkat lagi setelah leveling off yang terjadi bisa
diatasi. Produksinya juga lebih bermutu, lebih bergizi, lebih aman karena
sistem pertanian dikelola dengan lebih baik.
8. Petani
akan mempunyai catatan pertanian, sehingga tuntutan terhadap traceability dapat
dipenuhi.
Pertanian Konservasi juga akan meluas. Ada kelompok-kelompok
masyarakat yang mempunyai tuntutan terhadap pangan yang bebas pestisida dan
bebas dari pupuk kimia, serta kelompok yang ingin agar pertanian tidak
mencemari lingkungan. Dua kelompok masyarakat ini akan semakin besar di
dunia, demikian pula di Indonesia.Produktivitas sistem ini pada umumnya rendah,
lebih-lebih pada beberapa tahun kemudian; mutu fisik/visual produk juga rendah,
tetapi keamanannya tinggi dan dipercaya oleh sebagian konsumen nilai zat
berkhasiatnya yang terkadung di dalamnya tinggi. Namun, karena adanya
permintaan yang semakin besar dari kelompok-kelompok ini akan mendorong semakin
luasnya pertanian konservasi. Pada pertanian konservasi, prinsip utamanya
adalah pertanian yang mengandalkan dan berusaha mempertahankan kelestarian
alam. Dengan pertanian konservasi diusahakan agar tidak terlalu banyak
gangguanan ekosistem dalam alam pertanian. Pertanian ini lebih
mengandalkan mekanisme ekobiologi dari alam sehingga input yang diberikan pada
sistem pertanian ini diusahakan serendah mungkin. Kalaupun intu diberikan, maka input tersebut berupa
bahan-bahan organik alamiah yang bukan hasil budaya. Studi
ekofisiologi akan memegang peran penting dalam meningkatkan produktivitas
dan kelestarian sistem ini.
Pertanian
Teknologi Tinggi juga
akan meningkat pada masa depan. Pertanian ini akan sangat produktif,
produknya bermutu tinggi, aman, kandungan gizi dan zat berkhasiat yang ada di
dalamnya bisa diatur sesuai kebutuhan. Karena itu, pertanian ini
memerlukan input tinggi, baik berupa teknologi, bahan-bahan kimia maupun
energi.Pertanian ini bisa mengatasi kendala dan hambatan alam, bisa sangat
efisien tepai bisa juga tidak efisien. Pertanian ini juga mungkin tidak
menyebabkan degradasi lahan pertanian, maupun alam sekitar karena tidak
mengandalkan alam dalam produksi.Pertanian ini lebih mengandalkan teknologi dan
input dari hasil budaya. Pertanian ini hanya akan melibatkan pemodal
besar, bukan petani. Karena itu ada beberapa hal yang harus mendapat
perhatian:
1.
Apakah
sistem ini benar-benar efisien; tidak hanya dari efisiensi ekonomi, tetapi juga
teknik, energi, budaya, dan sosial?
2.
Apakah
sistem ini bebar-benar aman bagi planet bumi, tidak sekedar lingkungan sempit
lahan pertanian; baik pada masa kini maupun masa jauh ke depan?
Studi
ekofisologi akan dapat membantu dalam memecahkan pertanyaan-pertanyaan ini.




Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusbagusss, semoga indonesia segera menjadi negara maju
BalasHapusTerimakasih, Amiin..
Hapus