Jumat, 06 November 2015

Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta I

  • Bangunan cagar budaya

Makna Filosofis Rancang Bangun 
Masjid Kraton Sokotunggal Yogyakarta

Masjid dengan cara bahasa berarti tempat untuk bersujud. Tempat untuk melaksanakan ibadah orang-orang muslim ini tidak Cuma sama dengan rumah Tuhan, tetapi kerap juga dipakai sebagai tempat untuk berbuat baik pada sesama manusia. Pada bulan ramadhan, masjid juga semakin ramai. Berbagai aktivitas digelar, beragam ibadah ditingkatkan. Dibulan ramadhan, masjid tidak seperti umumnya. Sama dengan Masjid Soko Tunggal, masjid yang terletak didepan ruang wisata Tamansari Yogyakarta ini mempunyai kehasan yang tidak umum seperti di masjid-masjid lain. Yaitu seseorang abdi dalam Kraton bernama Raden Ngabehi Mintobudoyo yang mencurahkan daya pikirnya untuk mengarsitekturi masjid ini. Diatas tanah wakaf Sultan HB IX yang keseluruhannya mempunyai luas 900 m², bangunan Masjid Soko Tunggal dibangun tempati tanah seluas 288 m². Seperti namanya, Masjid Soko (Tiang paling utama) Tunggal ( Cuma satu ) ditopang oleh satu tiang saja didalam bangunan masjid. Kayu besar yang dijadikan sebagai tiang penyangga memiliki ukuran 50 x 50 cm. Konon kayu jati ini didatangkan dari Cepu, Jawa Tengah, serta waktu ditebang umur pohon jati tersebut telah berusia 150 tahun. Tiang kayu utama ini juga ditopang oleh umpak (batu penyangga) yang datang dari masa Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Baca Selengkapnya. . . .



Dengan cara arsitektur, masjid ini tidak cuma tidak sama dengan masjid-masjid atau bangunan joglo biasanya. entu rencana bangunan yang di buat bukanlah waton sulaya (asal tidak sama), namun arsitektur masjid ini mempunyai makna sendiri.  Di bangunan paling utama masjid, terkecuali 1 soko guru (tiang paling utama) bakal tampak 4 buah soko bentung (tiang samping) hingga keseluruhan ada 5 soko. 5 soko ini disimpulkan juga sebagai Pancasila sebagai landasan negara ini.  Cuma ada satu soko (tiang penyangga paling utama) di Masjid Soko Tunggal.  Diluar itu, di masjid ini dapat ada ukiran-ukiran yang menaruh beragam arti. Sebagian ukiran itu salah satunya ukiran probo (bumi, tanah, atau kewibawaan), ukiran Saton (menyendiri, sawiji), sorot (sinar matahari), tlacapan (panggah, tabah serta tangguh), sampai ukiran tetesan embun di antara daun serta bunga yang mempunyai arti siapa saja yang sholat di masjid ini mudah-mudahan beroleh anugerah dari Allah SWT.  Ukiran-ukiran penuh arti ini yaitu hasil kreasi seseorang mahasiswa ASRI jurusan seni ukir bernama Sutarno. 
Suatu sumber mengatakan bahwa pada rangka-rangka masjid ini dapat mempunyai arti filosofis sendiri. Soko brunjung melambangkan usaha meraih keluhuran wibawa. Lalu dudur juga sebagai simbol ke arah harapan kesempurnaan hidup. Sirah godo yang melambangkan kesempurnaan senjata yang ampuh, yang disimpulkan juga sebagai kesempurnaan jasmani serta rohani. Dan mustoko yang melambangkan keluhuran serta kewibawaan. Lalu bila dilihat lebih detil, di bagian langit-langit masjid ini seutuhnya tersusun dari kayu. Menariknya pada kayu-kayu itu sekalipun tidak didapati paku untuk menghubungkan dengan kayu yang lain. 


Tak tampak paku yang dipakai untuk menyambung pada kayu-kayu

Masjid Soko Tunggal yang di bangun dengan gaya arsitektur jawa ala kraton ini diresmikan pemakaiannya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tanggal 28 Februari 1973 sampai dengan saat ini, masjid sebagai salah satu cagar budaya di Yogyakarta ini masih tetap dipakai juga sebagai tempat melaksanakan ibadah ataupun aktivitas keagamaan yang lain oleh orang-orang seputar Tamansari.




  • Keraton
Benteng

Kraton Yogyakarta dikelilingi oleh cepuri (benteng dalam yang langsung melingkupi kraton), dan baluwarti (benteng luar yang melingkupi kraton dan beberapa pemukiman di sekitarnya serta beberapa bangunan komponen kota). Benteng-benteng tersebut mempunyai makna simbolik, yaitu berkaitan dengan kesakralan wilayah yang dihuni oleh penguasa beserta kerabatnya. Selain itu benteng juga memiliki makna praktis, yaitu berkaitan dengan usaha pertahanan dari serangan musuh. Berkaitan dengan makna yang terakhir itu, maka baluwarti kraton Yogyakarta dilengkapi pula dengan jagang, yaitu parit pertahanan. Tembok baluwarti tersebut secara keseluruhan tebalnya sekitar 4 m, dan di setiap sudutnya terdapat bastion yang dalam bahasa jawa disebut tulaktala. Untuk memasuki kawasan di dalam lingkup baluwarti ada lima buah pintu gerbang utama, yaitu gerbang Nirbaya, Jagabaya, Jagasura, Tarunasura dan Madyasura. Namun, yang terbuka sampai sekarang hanya empat gerbang, yakni : Tarunasura di sebelah timur Alun-Alun Ler, Nirbaya di sebelah selatan Alun-Alun Kidul, Jagabaya di sisi barat baluwarti dan Jagasura di sebelah barat Alun-Alun ler. Gerbang-gerbang ini dihubungkan dengan berbagai jalur dan simpul jalan yang mendukung kegiatan komunikasi dan transportasi antar kawasan.


Berikut adalah penjelasan tentang setiap pintu gerbang :


 Plengkung Taruna sura yang terletak di Timur Alun alun utara atau lebih dikenal dengan plengkung wijilan, hal ini karena terletak di daerah wijilan. Kondisi plengkung ini masih utuh dqan asli. Disebelah tempat ini terkenal dengan sentra makanan khas yogyakarta yang sangat terkenal yakni gudeg. Selain sebagai sentra gudeg disekeliling plengkung wijilan banyak ditemukan beberapa cinderamata khas jogja berupa batik maupun kaos.




Plengkung madyasura, berada disisi timur keraton yogyakarta atau berada di Mantrigawen sebelah selatan purawisata ke arah barat. Plengkung ini pada tanggal 23 Juni 1812 ditutup sehingga plengkung tersebut dikenal juga plengkung buntet atau plengkung tambakbaya atau plengkung gondomanan. Namun pada pemerintahan Sultan Hamengku buwono VIII dibongkar tapi dijadikan gerbang biasa, namun kondisi saat ini sudah tidak berwujud lagi.




Plengkung Jagabaya, terletak disebelah barat keraton tepatnya di dekat Tamansari, maka plengkung ini juga dinamakan plengkung tamansari, kondisi saat ini juga sudah tidah berupa plengkung hanya berupa gapura biasa.






Plengkung Jaga sura berada disebelah barat alun alun utara Yogyakarta, atau lebih dikenal dengan nama plengkung gerjen karena berada di gerjen atau dekat dengan kampung kauman. Kata Jagasura berasal dari dua kata yakni jaga yang berarti menjaga dan Sura yang berarti berani sehingga dapat diartikan gerbang komplek kraton yang melambangkan rasa keberanian.




Plengkung Nirbaya, letaknya berada di sebelah selatan keraton atau selatan alun alun kidul/selatan. Bentuk bangunan masih seperti aslinya yakni berupa plengkung. Pelngkung ini lebih dikenal dengan nama plengkung gading. Plengkung ini merupakan satu satunya pintu keluar raja yang mangkat atau wafat untuk dimakamkan di Makam Raja Raja Imogiri.  Sehingga Selama Sultan yang masih hidup tidak diperkenankan melewati plengkung nirbaya / plengkung gading ini.



Kawasan di dalam lingkup baluwarti, biasa disebut Jeron Beteng, sampai saat ini masih menunjukkan ciri-ciri kawasan tradisional yang dahulu berhubungan langsung dengan kraton, baik secara fisik maupun sosial. Perubahan tidak terjadi secara drastis. Pola perkampungan tradisional masih terlihat nyata baik dari bangunan-bangunan berarsitektur jawa yang masih banyak terdapat di kawasan itu, dari toponim-toponim yang khas, maupun dari aspek sosial berupa orang-orang yang masih menyandang gelar yang terkait dengan sultan dan kraton.



  • Dolanan Anak

Dolanan Cublak-cublak suweng

Permainan tardisional anak-anak yang bersifat kreatif, yang  pelaksanaannya denga cara mengetuk-ketuk (cublak-cublak) alat permainannya yang berupa subang ( suweng ) atau uwer atau biji-bijian lainnya, di telapak tangan para pemain. Pemain dalam permaian ini, baik usia maupun jumlahnya tidak dibatasi, namun akan lebih baik jika jumlah pemain tidak terlalu banyak. Permainan ini dapat dilakukan di mana saja.



 Cara bermainnya, ketika para pemain berkumpul, dilakukan undian  (hompipah) untuk menentukan salah  seorang yang harus jadi (dadi). Pemain  yang dadi segera duduk bersimpuh kemudian telungkup dengan kedua tangan  saling berdekatan di bawah kepala. Pemain yang lainnya duduk bersimpuh mengelilingi yang dadi dengan posisi kedua telapak tangan terbuka di atas panggung yang dadi. Kemudian salah satu pemain berperan sebagai mbok untuk memimpin permainan. Si mbok ini hanya meletakan tangan kirinya di atas punggung yang dadi sementara tangan kanannya digunakan untuk memegang  suweng (subang) atau kerikil. Tangan  kanan si mbok mengetuk-ketukan kerikil ke tangan para pemain secara bergantian dengan iringan lagu. Lagu tersebut adalah :”cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter, mambu ketundhung gudel, pak empong lera-lere, sapa ngguyu ndhelikake, sir-sir pong dhele gosong, sir-sir pong dhele gosong.

Di tengah-tengah lagu, kerikil diletakkan di salah satu telapak tangan pemain, lalu semua pemain mengangkat tangannya. Dalam posisi tangan menggenggap dan jari telunjuk tegak lurus saling digesek-gesekkan sambil menyanyikan “ sir-sir pong dhele gososng” berulang kali. Kemudian pemain yang dadi bangun dari  tengkurapnya untuk menebak siapa pemain yang membawa kerikil. Ketika pemain yang menunjuk kesalah satu pemain sambil mengatakan “gosong”. Bila tebakannya tersebut tepat, maka menang. Dan pemain yang tertebak menggantikan posisinya sebagai pemain yang dadi. Namun jika tebakan tersebut keliru maka tidak ada perubahan posisi pemain.

Berikut Video Cublak-Cublak Suweng :





  •  Gamelan/Musik
Gendang


Alat musik jenis pukul yang satu ini ada juga yang menyebutnya dengan sebutan Kendang. Yang ini juga tidak asing lagi bagi kita. Biasanya terbuat dari kayu yang dibentuk bulat berongga kemudian dikedua ujungnya ada kulit kambing atau kulit sapi yang diregang sehingga berbunyi jika dipukul. Ada juga yang hanya satu ujung saja yang diberi kulit. Alat musik Gendang adau Kendang ini juga merupakan salah satu alat musik Tradisinal Yogyakarta dan termasuk alat musik yang memiliki tangga nada. 

Biasanya bermain Gendang harus dikolaborasikan dengan berbagai alat musik lainnya seperti seruling, gong, dan lain sebagainya.


  • Upacara Adat
Upacara Kupatan Jolosutro

Kupatan dari kata kupat yang berarti Ketupat, sedangkan Jolosutro adalah nama suatu desa di Kelurahan Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Kupatan Jolosutr ini bagi penduduk setempat merpakan upacara bersih desa/rasulan. Pelaksanaan upacara ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu :

1.      Tahap pertama upacara nyekar pada makam leluhur, ke makam Sunan Geseng. Persiapan upacara dilakukan oleh kepala dukuh, juru kunci makam, kepala desa, keluarga kepala desa lama, dan beberapa tokoh masyarakat serta orang-orang yang dianggap mampu. Makanan untuk upacara berupa nasi yang ditempatkan pada ancak dan tenggak kemudian ditutup kain, disebut ambeng. Adapun ambeng berisi sekul (nasi) wajar dengan lauk pauk (Sambal goreng semur, gudeg, rempeyek, tempe bakar, dan lain-lain); sekul gurih (nasi gurih) dengan rangkaiannya (sambel gepeng, ingkung ayam); tukon pasar (jadah, jenang, wajik, roti) dilengkapi dengan buah-buah (mangga, pisang, jambu, jeruk, salak). Makanan khusus yang dipersiapkan antara lain rengginan, putu kering dan ketan enten-enten.

2.    Tahap kedua upacara Rasulan. Dilakukan esok hari setelah upacara nyekar. Para penduduk mengumpulkan ambeng ketempat upacara. Setelah ambeng tersebut terkumpul dan diberi doa, maka dibagikan kepada para pengunjung dan tamu undangan. Dengan berakhirnya acara makan bersama berarti selesailah upacara bersih desa, rasulan atau kupatan yang diselenggarakan di komplek makam Sentono.

Setelah itu dilakukan upacara di rumah dukuh masing-masing yang rangkaian upacaranya dengan di makam Sentono, tetapi upacara lebih bersifat intern. Penyelenggaraan upacara termasuk sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan para leluhur. Selain itu ditujukan pula kepada Eyang Sunan Geseng sebagai cikal bakal dan pepunden seluruh masyarakat Jolosutro. Waktu penyelenggaraan upacara sesudah masa panen terutama pada hari senin, sedangkan pasarannya semua pasaran dapat digunakan kecuali pasaran Pon dan selalu diadakan sekitar pertengahan bulan, bersamaan dengan bulan purnama.



  • Makanan Tradisional

Gethuk



Jenis makanan tradisional yang terbuat dari ketela pohon. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, gethuk kadang disajikan sebagai hidangan pembuka pada acara makan siang di Keraton Yogyakarta. Cara membuatnya, mula-mula ketela pohon dikukus hingga matang, kemudian ditumbuk, digiling atau dihaluskan dengan diberi gula, vanili, dan ditambah sedikit garam. Gethuk yang diolah secara tradisional, yaitu dengan cara ditumbuk, biasanya diiris berbentuk balok. Sedangkan gethuk yang diolah secara modern, yaitu digiling sampai halus sekali dan ditambah beberapa bahan lainnya, diantaranya mentega dan cokelat.



Sumber: 


3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Pos yang bagus, memeperkenalkan dan memberdayakan budaya yang ada :)

    BalasHapus

 

Budaya itu Indah !! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang